besok adalah hari pertama saya menginjakkan kaki dikampus itu "Universitas Peradaban", senang bercampur khawatir, perasaan yang umum dirasakan mahasiswa baru sepertiku, pasalnya besok adalah pengenalan kampus untuk mahasiswa baru, kegiatan yang wajib dilakukan oleh setiap kampus untuk memperkenalkan mahasiswa baru tentang kondisi kampus, budaya, serta aktifitas-aktifitas yang ada di dalam kampus.
mentari terbit pagi tiba, pukul 06.00 saya telah bersiap dengan seragam putih hitam baru yang melekat pada tubuh tinggi kurusku, ditemani secangkir kopi dan sebungkus rokok yang seakan memberiku semangat untuk mengikuti PKMB hari pertama ini. "Hari ini akan se menyenangkan atau menyedihkan apa yah?" pikirku, pasalnya banyak cerita dari orang bahwa masa pengenalan kampus itu menyenangkan karena kita akan berinteraksi dan berkenalan dengan banyak teman baru yang berbeda karakter dan budaya, namun hal yang mereka anggap seru ini tentunya tidak berlaku untukku yang sulit untuk berbaur dan cenderung menyendiri, benar saja, karakter penyendiri yang terbangun sejak lama membuatku sangat sulit untuk berbaut dan memberikan kesan yang horor, belum lagi saat nama saya dipanggil untuk memperkenal diri dihadapan ratusan atau bahkan ribuan mahasiswa baru yang bersorak dan bertepuk tangan setelah namaku disebut "apa yang kalian soraki?" teriakku dalam hati sembari berjalan dengan kaku untuk naik keatas podium, "Selamat pagi, perkenalkan Nama saya Muh. Bilal Akbar Al-Makassari, Akrab disapa Bilal, Asal Jeneponto, terimakasih". perkanalan diri ini saya selesaikan dengan cepat secepat keringat dingin yang mngguyur seluruh tubuhku.
selama hari pertama ini yang ada dipikiran saya adalah kapan pulang?, saya sudah jenuh berada ditempat yang teramat asing ini.
akhirnya pukul 14.00 menandakan sudah jam pulang, namun sebelum pulang ada penyampaian dari Pantia PKMB "sebelum adik-adik maba pulang ada penyampaian dari pantia bahwa besok kalian akan diperkenalkan pada jurusan masing-masing, jadi untuk informasi dan persiapan pengenalan jurusan besok saya serahkan pada HMJ setiap jurusan untuk mengumpulkan mabanya dan memberikan arahan untuk PKMB di jurusan masing-masing besok, terimakasih" setelah panitia itu meninggalkan podium seluruh maba dari setiap jurusan dipisah dan diarahkan oleh senior-seniornya masing-masing. "adik-adik maba jurusan tekhnik sipil, perkenalkan nama saya Dwi Putri Annisa Rahmadani, asal Mamuju dan saya adalah ketua HMJ Teknik sipil mengucapkan selamat datang di kampus Universitas Peradaban, semoga kedepannya dapat berproses dengan baik, dan sebelum adik-adik pulang pengurus HMJ teknik sipil akan meminta kalian untuk mejalankan kewajiban pertama sebagai Junior kepada kakak seniornya, dan kewajiban itu akan disampaikan oleh pengurus saya, dengan ini saya persilahkan" wanita itu turun dengan senyuman yang tak asing, yah dia adalah wanita yang menyelamatkanku dari ketersesatan beberapa waktu lalu, senyumannya sangat indah, seindah untaian kalimat penyambutan yang ia ucapkan, walaupun kalimat sambutan itu menciptakan ke khawatiran bagi kami para mahasiswa baru.
Hari Kedua
Apa yang terlintas di pikiran anda melihat seorang maba berada di trotoar, menapaki jalan dengan pandangan menunduk ke paving-paving trotoar dengan seragam putih hitam, kaos kaki yang berbeda warna, menggunakan topi kerucut, kalung dari permen, kaca mata yang terbuat dari gelas air mineral, dan tergantung tulisan "KUTIL" dileher?. Entah pada momen memalukan ini pelajaran apa yang mereka (senior) akan berikan padaku, penampilanku tak pernah lolos dari setiap pasang mata pengguna jalan yang kutemui, entah apa yang mereka pikirkan setelah melihatku, nampak keren?, lucu?, memalukan?, atau malah kasihan?. Entah, aku tak punya waktu untuk mencari tahu apa yang mereka pikirkan.
Yang ada di kepalaku saat ini bagaimana caranya agar bisa menghilang dari pandangan semua orang.
"apakah selamanya pendidikan seperti ini?, praktik perpeloncoan sejak masih status pelajar juga kembali terulang setelah menyandang status Ter Pelajar?. Memilukan, pendidikan yang seharusnya mencerdaskan peserta didik selalu di awali dengan praktik-praktik yang tak mencerminkan dunia pendidikan, pendidikan yang seharusnya menumbuhkan moralitas peserta didik selalu diawali dengan praktik yang mengundang cemoohan dari orang sekitar, pendidikan yang seharusnya menumbuhkan kebijakan diri malah harus diawali dengan praktik hilangnya citra diri. Lalu sampai kapan pendidikan harus seperti ini?, tak adakah upaya untuk menghentikan semua kegiatan yang tak mencerminkan dunia pendidikan?, JIKA ADA mengapa praktik semacam ini masih sering terjadi di negara kita?
Apakah kalangan elit dunia pendidikan kurang tegas dalam menyikapi ini, atau peraturan-peraturan elit pendidikan tak pernah di atensi oleh kalangan menengah kebawahnya?. Sayang sekali jika seperti ini, kita kurang taat aturan sehingga generasi penerus seperti kami yang jadi korbannya".
Pak menteri yang terhormat, tolong perbaiki lagi sistem pendidikan, jangan biarkan 2 matahari terbit di dunia pendidikan.
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar