25 Mei 2015 Pengumuman kelulusan CAMABA Universitas Peradaban akhirya keluar. Namaku tertera pada urutan ke 18, Muh. Bilal Akbar Al-Fatih. Langsung ku beritahukan pada Mama berita Gembira ini.
"Ma, Alhamdulillah saya Lulus di pengumuman CAMABA Universitas Peradaban"
"Syukurlah kalau begitu nak, kapan kamu berangkat ke Makassar nak?".
"besok saya harus kemakassar ma, karena lusa saya harus melakukan pendaftaran ulang".
Akhirnya pengumuman yang ku tunggu-tunggu selama seminggu itu keluar juga, namun menjawab pertanyaan Mama terasa begitu berat, pasalnya saya harus meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang cukup lama, hanya sesekali dapat pulang kekampung halaman.
"kamu harus persiapkan perbekalanmu selama di makassar sana. Ingat pesan mama, kamu jangan lupa dengan tujuan utamamu menginjakkan kaki di kota makassar".
"siap ma ucapan mama akan selalu kuingat baik-baik, jangan lupa buatkan ikan kering kesukaanku untuk bekal ya ma" nadaku memelas.
"pasti nak, tapi dimakassar nanti kamu mau menginap dimana?".
"insya Allah saya nginap dirumah teman ma" .
26 Mei 2015 datanglah seorang pemuda yang belum lagi genap berumur dua abad menginjakkan kaki di kota ini 'makassar'. Dengan penuh harapan serta iringan do'a dari orang tua, aku membulatkan tekad untuk mengenyam pendidikan di sebuah Perguruan Tinggi Negeri Universitas Peradaban, menantang segala bentuk khawatir yang mengiringi perjalanan, hingga aku tepat berdiri disamping batas Antara Kabupaten Gowa dan Kota Makassar, gerbang kota yang nampak kumuh dan tak terawat, belum lagi bau pesing yang menyengat membuat para pejalan harus berlari jika melalui batas kota yang bau ini, kemewahan tugu itu hanya terpampang dari layar lebar yang sedang menayangkan iklan seorang pejabat tersenyum diatas keringat pedagang asongan dan pengamen jalan yang seharian penuh mengadu nasib untuk melanjutkan hidupnya. Inilah makassar yang berjuluk kota daeng. Mengendarai sepeda motor kesana kemari di kota yang bahkan tak seluas sepertiga kampung halamanku tersesat tak tau arah, nampak tanpa tujuan, berputar kesana kemari mencari alamat Kampus Peradaban tempatku akan mengenyam pendidikan hingga Sarjana. Asing, sendiri, dan tersesat di pinggir jalan kota. Seharian waktu ku habiskan dengan berkeliling, menyusuri lorong demi lorong, jalan-jalan protokol, pasar-pasar, hanya untuk menikmati sebuah kata 'tersesat'. 'Malu bertanya sesat di jalan', falsafah orang dahulu yang pada saat itu tak ku indahkan, mungkin sekedar mencoba membuktikan kebenaran sebuah kalimat dari pepatah, atau lebih tepatnya aku benar-benar malu untuk sekedar singgah bertanya alamat, hingga aku pun benar-benar tersesat. Ini adalah pelajaran hidup pertama yang aku dapatkan setelah memutuskan untuk pergi meninggalkan orang tua, sanak saudara dan semua kenangan di kampung halaman.
Siang berganti sore, matahari terbenam gulita datang, aku merenung di sebuah warung makan menikmati sepiring lelah dari penjajahan atas sikap pemaluku sendiri "saya benar-benar tersesat, saya benar-benar harus bertanya alamat". Tersesat ini membuatku sadar bahwa ada hal yang lebih kejam dari ego dan malu, yakni kehilangan arah.
Ditengah pergolakan pikiran antara malu dan khawatir, akhirnya datang seorang pembeli yang melemparkan senyum tepat kearahku, senyuman yang terlukis indah bagi seorang tersesat yang keringatnya belum lagi kering "kota makassar memang ramah", pikirku sembari berdiri dan ikut tersenyum lalu melemparkan sebuah tanya
"permisi kak mau numpang nanya".
"iya kak ada apa?". Ia menjawabku begitu cepat, seolah telah mengetahui akan ada tanya yang terlontar setelah senyuman indahnya ia tembakkan.
"Kampus 1 Universitas Peradaban alamatnya dimana ya kak?"
"kampus 1 UNPERA tepat berada di belakang tembok ini kak, ini pagar belakangnya". Ahhhh seharian saya berkeliling kota mencari sebuah alamat yang ternyata tepat berada di belakangku ini.
"terimakasih banyak kak, saya baru di kota ini jadi masih bingung mencari alamat".
"iya sama-sama kak, saya duluan, mari". Jawabnya singkat, sesingkat senyuman yang hanya sekejap dipandang namun mengenang dalam ingatan, ia melangkah pergi setelah makanan yang ia pesan berada di genggamannya.
Mungkin saja jika wanita itu tidak melemparkan sebuah senyum aku takkan pernah berani untuk memulai sebuah percakapan, bahkan hanya untuk bertanya sebuah alamat.
"Ma, Alhamdulillah saya Lulus di pengumuman CAMABA Universitas Peradaban"
"Syukurlah kalau begitu nak, kapan kamu berangkat ke Makassar nak?".
"besok saya harus kemakassar ma, karena lusa saya harus melakukan pendaftaran ulang".
Akhirnya pengumuman yang ku tunggu-tunggu selama seminggu itu keluar juga, namun menjawab pertanyaan Mama terasa begitu berat, pasalnya saya harus meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang cukup lama, hanya sesekali dapat pulang kekampung halaman.
"kamu harus persiapkan perbekalanmu selama di makassar sana. Ingat pesan mama, kamu jangan lupa dengan tujuan utamamu menginjakkan kaki di kota makassar".
"siap ma ucapan mama akan selalu kuingat baik-baik, jangan lupa buatkan ikan kering kesukaanku untuk bekal ya ma" nadaku memelas.
"pasti nak, tapi dimakassar nanti kamu mau menginap dimana?".
"insya Allah saya nginap dirumah teman ma" .
26 Mei 2015 datanglah seorang pemuda yang belum lagi genap berumur dua abad menginjakkan kaki di kota ini 'makassar'. Dengan penuh harapan serta iringan do'a dari orang tua, aku membulatkan tekad untuk mengenyam pendidikan di sebuah Perguruan Tinggi Negeri Universitas Peradaban, menantang segala bentuk khawatir yang mengiringi perjalanan, hingga aku tepat berdiri disamping batas Antara Kabupaten Gowa dan Kota Makassar, gerbang kota yang nampak kumuh dan tak terawat, belum lagi bau pesing yang menyengat membuat para pejalan harus berlari jika melalui batas kota yang bau ini, kemewahan tugu itu hanya terpampang dari layar lebar yang sedang menayangkan iklan seorang pejabat tersenyum diatas keringat pedagang asongan dan pengamen jalan yang seharian penuh mengadu nasib untuk melanjutkan hidupnya. Inilah makassar yang berjuluk kota daeng. Mengendarai sepeda motor kesana kemari di kota yang bahkan tak seluas sepertiga kampung halamanku tersesat tak tau arah, nampak tanpa tujuan, berputar kesana kemari mencari alamat Kampus Peradaban tempatku akan mengenyam pendidikan hingga Sarjana. Asing, sendiri, dan tersesat di pinggir jalan kota. Seharian waktu ku habiskan dengan berkeliling, menyusuri lorong demi lorong, jalan-jalan protokol, pasar-pasar, hanya untuk menikmati sebuah kata 'tersesat'. 'Malu bertanya sesat di jalan', falsafah orang dahulu yang pada saat itu tak ku indahkan, mungkin sekedar mencoba membuktikan kebenaran sebuah kalimat dari pepatah, atau lebih tepatnya aku benar-benar malu untuk sekedar singgah bertanya alamat, hingga aku pun benar-benar tersesat. Ini adalah pelajaran hidup pertama yang aku dapatkan setelah memutuskan untuk pergi meninggalkan orang tua, sanak saudara dan semua kenangan di kampung halaman.
Siang berganti sore, matahari terbenam gulita datang, aku merenung di sebuah warung makan menikmati sepiring lelah dari penjajahan atas sikap pemaluku sendiri "saya benar-benar tersesat, saya benar-benar harus bertanya alamat". Tersesat ini membuatku sadar bahwa ada hal yang lebih kejam dari ego dan malu, yakni kehilangan arah.
Ditengah pergolakan pikiran antara malu dan khawatir, akhirnya datang seorang pembeli yang melemparkan senyum tepat kearahku, senyuman yang terlukis indah bagi seorang tersesat yang keringatnya belum lagi kering "kota makassar memang ramah", pikirku sembari berdiri dan ikut tersenyum lalu melemparkan sebuah tanya
"permisi kak mau numpang nanya".
"iya kak ada apa?". Ia menjawabku begitu cepat, seolah telah mengetahui akan ada tanya yang terlontar setelah senyuman indahnya ia tembakkan.
"Kampus 1 Universitas Peradaban alamatnya dimana ya kak?"
"kampus 1 UNPERA tepat berada di belakang tembok ini kak, ini pagar belakangnya". Ahhhh seharian saya berkeliling kota mencari sebuah alamat yang ternyata tepat berada di belakangku ini.
"terimakasih banyak kak, saya baru di kota ini jadi masih bingung mencari alamat".
"iya sama-sama kak, saya duluan, mari". Jawabnya singkat, sesingkat senyuman yang hanya sekejap dipandang namun mengenang dalam ingatan, ia melangkah pergi setelah makanan yang ia pesan berada di genggamannya.
Mungkin saja jika wanita itu tidak melemparkan sebuah senyum aku takkan pernah berani untuk memulai sebuah percakapan, bahkan hanya untuk bertanya sebuah alamat.
'hidup adalah sebuah perjalanan, dalam perjalanan ada banyak hal yang akan dilalui, tersesat adalah pasti, untuk seorang yang pertama kali menginjakkan kaki di sebuah tempat yang masih asing. Maka bertanya adalah keharusan, menuntun langkah, sampai pada tujuan'.