Pada dasarnya kita tak mampu berbuat apa-apa, sedari awal kita memerlukan seseorang, beberapa orang ataupun sekelompok orang untuk bertumbuh dan berkembang.
Sedari lahir kita dimandikan dipakaikan pakaian, di selimuti dan di suapi. Kita bertumbuh dan terus bertumbuh hingga mampu merangkak, tertawa dan mulai mengenali. Duduk, bermain, meminta makan dan minum. Terus bertumbuh hingga mampu berdiri dengan baik, mengenali saudara, keluarga, dan orang-orang di sekitar. Saat mampu berjalan dan berlari kecil, sesekali terjatuh dan merengek, berlari dan terjatuh lagi hingga akhirnya mampu berinteraksi dengan baik, belajar, sekolah, kuliah, bertumbuh kembang dan menjadi dewasa.
Semuanya takkan dilalui tanpa campur tangan orang-orang disekitar.
Sungguh indah masa kecil yang dibalut didikan-didikan orang tua, dipengaruhi lingkungan, menghargai kehidupan melalui pola-pola sederhana yang menekankan etika, agama, dan nilai-nilai kerifan lokal.
Hingga semuanya berubah Setelah menginjakkan kaki di sebuah tempat yang ramai, gedung-gedung mewah terpancang dengan suburnya, subur. Bahkan menara-menara penyiar kebajikan kalah subur oleh gedung-gedung megah tempat segala kegiatan 'kerja, pendidikan, prostitusi, perjudian, dan mabuk-mabukan'. Potret modernisasi kota tempat segala warna kulit mengadu nasib 'halal haram asal makan dulu, baik buruk asal usaha dulu' hasilnya serahkan entah pada Tuhan atau Tuan mereka.
Di kota ini 'makassar'. Urbanisasi terus terjadi mungkin karena kurang seimbangnya pembangunan infrastruktur, kualitas pendidikan, dan lapangan pekerjaan yang tidak memadai, menyebabkan masyarakat lebih memilih melakukan perantauan untuk mengadu nasib di kota.
Mereka bermacam-macam tujuan, ada yang ingin bekerja, kuliah, jualan, bahkan ada yang tak punya tujuan hingga akhirnya terjerumus pada perkerjaan-pekerjaan yang tak berkah, PSK, jambret, pemalak, begal, premanisme, merajalela di sebuah kota yang disebut dengan kota daeng, sematan nama yang bernilai sangat dalam, makna kesopanan dan penghargaan yang di sematkan pada kota yang kini tak lagi ramah. Kita bertumbuh dan berkembang, atau mungkin kita merosot dan tertinggal.
Budaya kita tergerus dan berganti.
Kota semakin modern moral kita semakin terkikis.
Sungguh indah masa kecil yang dibalut didikan-didikan orang tua, dipengaruhi lingkungan, menghargai kehidupan melalui pola-pola sederhana yang menekankan etika, agama, dan nilai-nilai kerifan lokal.
Hingga semuanya berubah Setelah menginjakkan kaki di sebuah tempat yang ramai, gedung-gedung mewah terpancang dengan suburnya, subur. Bahkan menara-menara penyiar kebajikan kalah subur oleh gedung-gedung megah tempat segala kegiatan 'kerja, pendidikan, prostitusi, perjudian, dan mabuk-mabukan'. Potret modernisasi kota tempat segala warna kulit mengadu nasib 'halal haram asal makan dulu, baik buruk asal usaha dulu' hasilnya serahkan entah pada Tuhan atau Tuan mereka.
Di kota ini 'makassar'. Urbanisasi terus terjadi mungkin karena kurang seimbangnya pembangunan infrastruktur, kualitas pendidikan, dan lapangan pekerjaan yang tidak memadai, menyebabkan masyarakat lebih memilih melakukan perantauan untuk mengadu nasib di kota.
Mereka bermacam-macam tujuan, ada yang ingin bekerja, kuliah, jualan, bahkan ada yang tak punya tujuan hingga akhirnya terjerumus pada perkerjaan-pekerjaan yang tak berkah, PSK, jambret, pemalak, begal, premanisme, merajalela di sebuah kota yang disebut dengan kota daeng, sematan nama yang bernilai sangat dalam, makna kesopanan dan penghargaan yang di sematkan pada kota yang kini tak lagi ramah. Kita bertumbuh dan berkembang, atau mungkin kita merosot dan tertinggal.
Budaya kita tergerus dan berganti.
Kota semakin modern moral kita semakin terkikis.